MAKALAH SOSIOLOGI AGAMA
Fungsi Agama Dalam
Kehidupan Masyarakat

Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.
Anis
Nur Fitriani (1113051000153)
2.
Destiana Maisratun (1113051000155)
3.
Bahar Widhiyatmoko (1113051000 )
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik
Allah azza wa jalla. Tuhan alam semesta yang telah
melimpahkan nikmat-NYA kepada kita semua, serta segala hal yang baik menjadi
sempurna. Shalawat dan salam semoga tetap atas junjungan nabi kita yang agung
Muhammad SAW, yang telah menjadi utusan Allah untuk menyampaikan berita gembira
dan peringatan serta rahmat bagi umat manusia didunia ini.
Agama
adalah gejala yang begitu sering “ terdapat dimana-mana” sehingga sedikit
membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Agama berkaitan
dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya
sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulakn khayalnya yang
paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar
biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan bathin yang
paling sempurna, dan juga rasa takut dan ngeri. Meskipun perhatiaan kita
tertuju sepenuhnya kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat
(akhirat), namun agama (juga) melibatkan dirinya dalam masalah-masalah
kehidupan sehari-hari dunia ini.
Agama
yang dianut manusia, tidak seperti perekonomiaannya, tidak dapat diambil dari
salah satu anugrah yang dimiliki bersama dengan binatang-binatang lain. Juga
tidak dapat dianggap bahwa ia berasal dari salah satu aspek dari sifat-sifat
khusus manusia. Bagaimanapun pentingnya bagi agama ketergantungan anak kepada
kedua orangtua mereka dalam jangka waktu yang lama, baik tuhan maupun dewa-dewa
tidak dapat dijelaskan lain kecuali sebagai proyeksi atau proyeksi-proyeksi
dari tokoh lain (figur) orangtua dalam ukuran besar.
Makalah
ini akan menjelaskan tentang “fungsi agama dalam
kehidupan bermasyarakat.”
Semoga dengan
makalah ini dapat menambah wawasan kita semua amin.
Penulis
Anis Nur
Fitriani,
Destiana Maisratun, Bahar Widhiyatmoko
Daftar isi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama
dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkesinambungan. Masyarakat membutuhkan
agama sebagai pedoman mereka dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang
ada pada dunia dan memberikan kebahagiaan diakhirat. Sedang agama membutuhkan
subjek masayarakat untuk menjalankan berbagai ajarannya menurut peraturan agama
masing-masing.
Agama
sangat berperan dalam kehidupan bermasyarakat atau sosial, baik terhadap sesama
manusia, hewan dan alam sekitar. Fungsi agama itu sendiri memiliki berbagi
perbedaan pendapat antara satu ilmuwan dengn yang lain.
Makalah
ini kami buat untuk menjelaskan fungsi agama atau ajarannya dalam kehidupan
masyarakat. Dan bagaimana masyarakat menganggap agama atau ajaran itu
sendiri.
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk
:
a)
Agar
mahasiswa
dan mahasiswi dapat mengetahui pengertian agama dalam pandangan para ilmuwan.
b)
Agar mahasiswa dan mahasiswi dapat
mengetahui pengertian masyarakat dalam pandangan para ilmuwan.
c)
Agar mahasiswa dan mahasiswi dapat
mengetahui fungsi agama dalam kehidupan masyarakat.
C.Sistematika Penulisan
Sistematika
yang digunakan dalam penulisan makalah ini bersumber daripada buku-buku ilmiah,
dan pemikiran sendiri.
Sistematika
dengan pemikiran sendiri ini berisi :
ü
Bab
I Pendahuluan
a.
Latar
Belakang
b.
Tujuan
Penulisan
c.
Sistematika
ü
Bab
II
Pembahasan
ü
Bab
III
a.
Kesimpulan
Daftar pusaka
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori-teori fungsional mengenai agama
Agama
memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat, istilah fungsi seperti kita ketahui
menunjuk pada sumbangan yang diberikan agama atau lembaga sosial lain untuk
mempertahankan keutuhan masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan
terus menerus. Beberapa teori mengenai fungsi agama dalam kehidupan masyarakat
dari berbagai tokoh :
a. Durkheim
Menyatakan bahwa fungsi sosial agama
adalah mendukung dan melestarikan masyarakat yang sudah ada. Agama menurutnya
bersifat fungsional terhadap persatuan dan solidaritas sosial.
b. Yinger
Yang terpenting adalah bahwa semua orang memerlukan
nilai-nilai mutlak untuk pegangan hidup, dan bahwa nilai-nilai ini merupakan
jawaban terhadap persoalan-persoalan terakhir mengenai hidup dan mati. Beberpa
agama memberikan jawaban terhadap kebutuhan ini, padahal pengetahuan empirik[1]
maupun perkembangan sains[2] tidak
dapat memberikannya.
c. Marxis
Menyatakan bahwa agama adalah bagian yang diperlukan
dalam semua masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas, yakni semua masyarakat
yang ada sejak komunisme primitif berakhir. Fungsi utamanya adalah memperkuat
struktur-struktur sosial yang terpecah-pecah kedalam kelas-kelas ini. Sedangkan
fungsi kurang pentingnya adalah mengekspresikan dan mendorong timbulnya kritik
dan ketidakpuasan yang menimbulkan huru-hara dikalangan orang-orang tertindas.
Agama
juga memiliki fungsi yang tidak dapat didefisinikan dalam masyarakat, bahkan ia
bukan aspek kemanusiaan yang jelas dan diperlukan, sebgaimana dinyatakan oleh
aliran fungsional. Menurut pendapatnya pada dasarnya optimistik mengenai
masyarakat manusia jelas sekali, manusia dapat mengangkat dirinya dengan usaha
sendiri dan menyelamatkan dirinya dari kecanduan terhadap agama. Ia juga
berpendapat bahwa manusia dalam kehidupan bersama mereka mencipta berbagai
produk sosial. Produk-produk ini bisa berupa benda-benda material, seperti
bahan makanan dan bangunan-bangunan atau produk imaterial, seperti struktur
aturan sosial, ilmu pengetahuan atau agama selama manusia tidak terpecah-pecah
menjadi beberapa kelas yang saling berlawanan.
d. Berger
Berger berpendapat bahwa fungsi agama
untuk memperkuat dan menimbulkan solidaritas justru secarab fundamental semakin
melemah dalam masyarakat Amerika modern. Pernyataannya menyatakan bahwa agama
merupakan salah satu benteng pertahanan untuk menghadapi anomie[3]
sepanjang sejarah manusia, bisa dianggap benar bila individu-individu bersedia
mematuhi secara meyakinkapgn aturan-aturan dan nilai-nilai kelompok keagamaan
tertentu yang mereka ikuti.
e. Freud
Freud berpendapat bahwa masyarakat yang tidak
terlalu bercorak keagamaan adalah masyarakat dimana lebih banyak experimen
sosial bisa dilakukan. Ia juga berpendapat bahwa melalui berbagai fantasi
super-ego yang menghukum, etika yang ditetapkan secara keagamaan selalu
menerapkan lebih banyak pembatasan terhadap naluri-naluri kemanusiaan dari pada
kebolehan-kebolehan yang diperlakukan bagi suatu masyarakat yang damai dan
tertib. Diperlakukannya pembatasan-pembatasan yang ketat ini menimbulkan
beberapa peristiwa yang menyebabkan frustasi dan berbagai peristiwa yang
menimbulkan berbagai perasaan bersalah pada anak-anak. Peristiwa-peristiwa yang timbul ini hanya dapat dipenuhi dengan pembatasan-pembatasan lebih
lanjut sehingga karena itu lingkaran kejahatanpun bisa terbentuk, tetapi
lingkaran ini dapat dipecahkan dari lingkaran yang lebih menguntungkan pun dapat muncul melalui pengembangan ilmu
pengetahuan anak.
Jadi, Freud berpendapat bahwa selama ada pertumbuhan
kuat ilmu kealaman, kreativitas manusia dapat memperoleh jangkauan untuk
menentukan struktur sosial, asalkan pertumbuhan itu tidak terhalang oleh
kepercayaan keagamaan. Karena adanya pembatsan-pembatasan inilah ada
kemungkinan besar bahwa meskipun agama-agama bisa mengubah bentuk dan isinya,
masyarakat-masyarakat itu akan bertahan. Manusia senantiasa membutuhkan agama
mereka karena selain untuk mengekspresikan penyakit jiwa mereka, agama juga
diperlukan untuk menyalurkannya sehingga penyakit itu tidak tampak sebagai
abnormalitas yang mencampuri kehidupan mereka sehari-hari.
Jadi, menurut
freud berbagai corak semangat politk dan sosial rakyat diklasifikasikan sebagai
agama juga, atau sebagai sesuatu yang secara fungsional sama dengan agama.
Sebab timbulnya agama justru terletak pada berbagai kesulitan tertentu dalam
proses sosialisasi dilingkungan keluarga, dan pada berbagai konflik nyata
antara kepentingan individual dan kolektif dalam masyarakat. Fungsinya adalah
mendukung tatanan nasioanal yang sudah ada, meskipun kadang-kadang bisa timbul
juga berbagai ekspresi keagamaan yang bercorak pemberontakan terhadapnya.
B. Kesimpulan
Pada
dasarnya pendapat para ilmuan seperti Durkheim, Yinger, Berger, Freud,dan Marx
bahwa fungsi dari agama itu sendiri pada masyarakat adalah sebagai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar