Kamis, 28 November 2013



MAKALAH SOSIOLOGI AGAMA

Fungsi Agama Dalam Kehidupan Masyarakat




Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.    Anis Nur Fitriani         (1113051000153)
2.    Destiana Maisratun      (1113051000155)
3.    Bahar Widhiyatmoko  (1113051000      )


Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2013

KATA PENGANTAR


Segala puji hanya milik Allah azza wa jalla. Tuhan alam semesta yang telah melimpahkan nikmat-NYA kepada kita semua, serta segala hal yang baik menjadi sempurna. Shalawat dan salam semoga tetap atas junjungan nabi kita yang agung Muhammad SAW, yang telah menjadi utusan Allah untuk menyampaikan berita gembira dan peringatan serta rahmat bagi umat manusia didunia ini.
Agama adalah gejala yang begitu sering “ terdapat dimana-mana” sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulakn khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan bathin yang paling sempurna, dan juga rasa takut dan ngeri. Meskipun perhatiaan kita tertuju sepenuhnya kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat (akhirat), namun agama (juga) melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari dunia ini.
Agama yang dianut manusia, tidak seperti perekonomiaannya, tidak dapat diambil dari salah satu anugrah yang dimiliki bersama dengan binatang-binatang lain. Juga tidak dapat dianggap bahwa ia berasal dari salah satu aspek dari sifat-sifat khusus manusia. Bagaimanapun pentingnya bagi agama ketergantungan anak kepada kedua orangtua mereka dalam jangka waktu yang lama, baik tuhan maupun dewa-dewa tidak dapat dijelaskan lain kecuali sebagai proyeksi atau proyeksi-proyeksi dari tokoh lain (figur) orangtua dalam ukuran besar.
 Makalah ini akan menjelaskan tentang “fungsi agama dalam kehidupan bermasyarakat.” Semoga dengan makalah ini dapat menambah wawasan kita semua amin.

Penulis
Anis Nur Fitriani, Destiana Maisratun, Bahar Widhiyatmoko



Daftar isi

 













BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Agama dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkesinambungan. Masyarakat membutuhkan agama sebagai pedoman mereka dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada pada dunia dan memberikan kebahagiaan diakhirat. Sedang agama membutuhkan subjek masayarakat untuk menjalankan berbagai ajarannya menurut peraturan agama masing-masing.
Agama sangat berperan dalam kehidupan bermasyarakat atau sosial, baik terhadap sesama manusia, hewan dan alam sekitar. Fungsi agama itu sendiri memiliki berbagi perbedaan pendapat antara satu ilmuwan dengn yang lain.
Makalah ini kami buat untuk menjelaskan fungsi agama atau ajarannya dalam kehidupan masyarakat. Dan bagaimana masyarakat menganggap agama atau ajaran itu sendiri. 

B. Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk :
a)      Agar mahasiswa dan mahasiswi dapat mengetahui pengertian agama dalam pandangan para ilmuwan.
b)      Agar mahasiswa dan mahasiswi dapat mengetahui pengertian masyarakat dalam pandangan para ilmuwan.
c)      Agar mahasiswa dan mahasiswi dapat mengetahui fungsi agama dalam kehidupan masyarakat.





C.Sistematika Penulisan

Sistematika yang digunakan dalam penulisan makalah ini bersumber daripada buku-buku ilmiah, dan  pemikiran sendiri.
Sistematika dengan pemikiran sendiri ini berisi :
ü  Bab I Pendahuluan
a.       Latar Belakang
b.      Tujuan Penulisan
c.       Sistematika
ü  Bab II
Pembahasan
ü  Bab III
a.       Kesimpulan
Daftar pusaka

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Teori-teori fungsional mengenai agama


Agama memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat, istilah fungsi seperti kita ketahui menunjuk pada sumbangan yang diberikan agama atau lembaga sosial lain untuk mempertahankan keutuhan masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus menerus. Beberapa teori mengenai fungsi agama dalam kehidupan masyarakat dari berbagai tokoh :
a.       Durkheim
Menyatakan bahwa fungsi sosial agama adalah mendukung dan melestarikan masyarakat yang sudah ada. Agama menurutnya bersifat fungsional terhadap persatuan dan solidaritas sosial.
b.      Yinger
Yang terpenting adalah bahwa semua orang memerlukan nilai-nilai mutlak untuk pegangan hidup, dan bahwa nilai-nilai ini merupakan jawaban terhadap persoalan-persoalan terakhir mengenai hidup dan mati. Beberpa agama memberikan jawaban terhadap kebutuhan ini, padahal pengetahuan empirik[1] maupun perkembangan sains[2] tidak dapat memberikannya. 
c.       Marxis
Menyatakan bahwa agama adalah bagian yang diperlukan dalam semua masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas, yakni semua masyarakat yang ada sejak komunisme primitif berakhir. Fungsi utamanya adalah memperkuat struktur-struktur sosial yang terpecah-pecah kedalam kelas-kelas ini. Sedangkan fungsi kurang pentingnya adalah mengekspresikan dan mendorong timbulnya kritik dan ketidakpuasan yang menimbulkan huru-hara dikalangan orang-orang tertindas.
Agama juga memiliki fungsi yang tidak dapat didefisinikan dalam masyarakat, bahkan ia bukan aspek kemanusiaan yang jelas dan diperlukan, sebgaimana dinyatakan oleh aliran fungsional. Menurut pendapatnya pada dasarnya optimistik mengenai masyarakat manusia jelas sekali, manusia dapat mengangkat dirinya dengan usaha sendiri dan menyelamatkan dirinya dari kecanduan terhadap agama. Ia juga berpendapat bahwa manusia dalam kehidupan bersama mereka mencipta berbagai produk sosial. Produk-produk ini bisa berupa benda-benda material, seperti bahan makanan dan bangunan-bangunan atau produk imaterial, seperti struktur aturan sosial, ilmu pengetahuan atau agama selama manusia tidak terpecah-pecah menjadi beberapa kelas yang saling berlawanan.
d.      Berger
Berger berpendapat bahwa fungsi agama untuk memperkuat dan menimbulkan solidaritas justru secarab fundamental semakin melemah dalam masyarakat Amerika modern. Pernyataannya menyatakan bahwa agama merupakan salah satu benteng pertahanan untuk menghadapi anomie[3] sepanjang sejarah manusia, bisa dianggap benar bila individu-individu bersedia mematuhi secara meyakinkapgn aturan-aturan dan nilai-nilai kelompok keagamaan tertentu yang mereka ikuti. 
e.       Freud
Freud berpendapat bahwa masyarakat yang tidak terlalu bercorak keagamaan adalah masyarakat dimana lebih banyak experimen sosial bisa dilakukan. Ia juga berpendapat bahwa melalui berbagai fantasi super-ego yang menghukum, etika yang ditetapkan secara keagamaan selalu menerapkan lebih banyak pembatasan terhadap naluri-naluri kemanusiaan dari pada kebolehan-kebolehan yang diperlakukan bagi suatu masyarakat yang damai dan tertib. Diperlakukannya pembatasan-pembatasan yang ketat ini menimbulkan beberapa peristiwa yang menyebabkan frustasi dan berbagai peristiwa yang menimbulkan berbagai perasaan bersalah pada anak-anak.  Peristiwa-peristiwa  yang timbul ini hanya dapat  dipenuhi dengan pembatasan-pembatasan lebih lanjut sehingga karena itu lingkaran kejahatanpun bisa terbentuk, tetapi lingkaran ini dapat dipecahkan dari lingkaran yang lebih menguntungkan pun  dapat muncul melalui pengembangan ilmu pengetahuan anak.
Jadi, Freud berpendapat bahwa selama ada pertumbuhan kuat ilmu kealaman, kreativitas manusia dapat memperoleh jangkauan untuk menentukan struktur sosial, asalkan pertumbuhan itu tidak terhalang oleh kepercayaan keagamaan. Karena adanya pembatsan-pembatasan inilah ada kemungkinan besar bahwa meskipun agama-agama bisa mengubah bentuk dan isinya, masyarakat-masyarakat itu akan bertahan. Manusia senantiasa membutuhkan agama mereka karena selain untuk mengekspresikan penyakit jiwa mereka, agama juga diperlukan untuk menyalurkannya sehingga penyakit itu tidak tampak sebagai abnormalitas yang mencampuri kehidupan mereka sehari-hari.
 Jadi, menurut freud berbagai corak semangat politk dan sosial rakyat diklasifikasikan sebagai agama juga, atau sebagai sesuatu yang secara fungsional sama dengan agama. Sebab timbulnya agama justru terletak pada berbagai kesulitan tertentu dalam proses sosialisasi dilingkungan keluarga, dan pada berbagai konflik nyata antara kepentingan individual dan kolektif dalam masyarakat. Fungsinya adalah mendukung tatanan nasioanal yang sudah ada, meskipun kadang-kadang bisa timbul juga berbagai ekspresi keagamaan yang bercorak pemberontakan terhadapnya. 

B.     Kesimpulan

Pada dasarnya pendapat para ilmuan seperti Durkheim, Yinger, Berger, Freud,dan Marx bahwa fungsi dari agama itu sendiri pada masyarakat adalah sebagai


[1] Pengtahuan Empirik adalah pengetahuan yang diambil dari sebuah pengalaman
[2] Sains adalah ilmu pengetahuan
[3] Kericuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar