Kamis, 28 November 2013

Makalah Akhlak Tasawuf



KATA PENGANTAR


         Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah serta Inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Standard dan Kriteria Akhlak serta Pengertian Baik dan Buruk” tepat pada waktunya untuk memenuhi tugas Akhlak Tasawuf. Makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui standar dan kriteria serta pengertian baik dan buruk.
         Tentunya dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan baik dari segi penulisan maupun dalam segi isi / pembahasan. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik untuk tugas selanjutnya. Tidak lupa pula, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta mendukung dalam penulisan makalah yang sederhana ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                                                           

Ciputat, 29 September 2013


                                                                                                Tim Penulis


BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Semakin berkembangnya sebuah ilmu yang telah di pelajari berkembang pula pola pikir seseorang dalam mengapresiasi sebuah kajian yang telah di telaah. Akhlak adalah sebuah perangai, tabi`at seseorang yang nampak pada diri orang tersebut. Standar akhlak pada diri seseorang tersebut adalah hati nurani itu yang paling utama. Di kesempatan kali ini kami mencoba membahas sedikit tentang Standard dan Kriteria Akhlak dan Pengertian Baik dan Buruk. Untuk itu kami membahasnya dalam makalah ini. Makalah ini bertujuan agar mahasiswa memahami materi yang disampaikan. Seiring dengan berkembangnya zaman, perilaku manusia banyak yang meyimpang dari ajaran yang dianutnya. Oleh karena itu, materi ini akan membahas Standar dan Kriteria Akhlak serta Pengertian Baik dan Buruk.

B.     Rumusan Masalah

Dari  latar belakang di atas dapat di tarik rumusan masalah yaitu sebagai berikut ;
1.      Apakah pengertian dari akhlak itu?
2.      Apa pengertian dari Baik dan Buruk?

BAB II

PEMBAHASAN


A.    Standar dan Kriteria Akhlak

Akhlak adalah ilmu perilaku. Dimana ilmu ini membahas tentang perilaku manusia dari beragam potensi yang membuat manusia condong kepada kebaikan atau keburukan[1].
Ukuran baik dan buruk manusia dapat di ukur menurut fitrah manusia itu sendiri. Karena mempersoalkan baik dan buruk suatu perbuatan manusia itu sangat sulit di pecahkan.
Adat dan kebiasaan juga mempengaruhi akhlak seseorang. Manusia bisa terpengaruh oleh adat istiadat bangsanya. Setiap bangsa memiliki adat istiadat tersendiri. Banyak yang beranggapan bahwa siapa yang mengikuti adat istiadat itu berarti baik. Mendidik anak-anak kejurusan adat istiadat. Jadi siapa saja dari mereka yang menyalahi adat istiadat itu berarti dia tercela dan dianggap sudah keluar dari golongan bangsanya.
Adapun alasan mengapa adat istiadat itu dilakukan dan larangan untuk menyingkirkan, yaitu :
1.      Karena adat istiadat telah tertanam kuat dan kokoh bagi pengikutnya, dan bagi yang menyalahinya berarti telah melakukan keburukan. Contohnya adat berpakaian, adat makan, dll.
2.      Apa yang telah diriwayatkan secara turun temurun yang menganggap bahwa syetan dan jin akan membalas dendam kepada orang-orang yang menyalahi perintah-perintah dalam adat-istiadat  dan malaikat akan memberi pahala bagi para pengikutnya.
3.      Mengikuti upacara adat dengan tujuan agar para pengikut paham maksud dan tujuan upacara tersebut.
Penilaian dari suatu perbuatan itu adalah relatif. Setiap manusia memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam penentuan ini. Seperti halnya dengan pengertian salah dan benar, salah bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain.
Menurut Ethik, baik adalah sesuatu yang berharga untuk suatu tujuan[2]. Maksudnya yaitu tujuan dari masing-masing itu sama yaitu untuk mencapai tujuan yang di namakan Baik. Dengan harapan mendapatkan yang baik dan bahagia. Sesuatu itu di nilai seseorang baik apabila hal itu sesuai tujuannya.

Adapun kriteria akhlak menurut Ali bin Abi Thalib sebagai berikut ;
1.      Memiliki akal yang sempurna
2.      Taat menjalankan ajaran Allah
3.      Memiliki ilmu
4.      Mempunyai sifat Hilm (santun)
5.      Memiliki sifat pemurah
6.      Memiliki ma`rifat
7.      Suka berbuat baik
8.      Sabar
9.      Banyak bersyukur kepada Allah
10.  Lemah lembut tindak tanduknya

B.     Pengertian Baik dan Buruk

Baik dan Buruk adalah suatu istilah yang di gunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang di lakukan seseorang[3]. Secara bahasa baik berasal dari bahasa arab Khair dan Good dari bahasa inggris. Dalam kitab munjid,  Louis Ma`luf mendefinisikan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan[4]. Tingkah laku manusia di katakan baik jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Menurut  Ethik baik adalah sesuatu yang berharga untuk suatu tujuan, sebaliknya sesuatu yang tidak berharga atau berguna untuk tujuan atau bahkan merugikan itu adalah Buruk[5]. Maksudnya yaitu tujuan dari masing-masing itu sama untuk mencapai tujuan yang di namakan Baik. Dengan harapan mendapatkan yang baik dan bahagia. Sesuatu itu di nilai baik apabila hal itu sesuai dengan tujuannya.
Sesuatu yang di sebut baik atau buruk relatif sekali, karena bergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskannya. Dengan demikian nilai baik atau buruk pengertian tersebut bersifat subjektif, karena bergantung kepada individu yang menilainya.[6]

1.      Sifat dari Baik dan Buruk
            Sifat baik atau buruk yang dihasilkan berdasarkan pemikiran filsafat tersebut menjadi relatif dan nisbi pula, yakni baik dan buruk yang dapat terus berubah. Untuk itu perlu ada suatu ketentuan baik dan buruk yang di dasarkan pada nilai-nilai yang universal. Uraian tersebut di atas sebagian ada yang menunjukkan keuniversalan, yaitu penentuan baik dan buruk yang didasar pada pandangan intusisme sebagaimana telah diuraikan diatas. Namun demikian bagaimanapun intuisi itu tetap saja tidak semutlak wahyu yang datang dari  Allah. [7]
2.  Baik dan Buruk menurut ajaran Islam
            Ajaran Islam adalah ajaran agama yang bersumber wahyu Allah SWT. Masalah akhlak dalam ajaran Islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar. Menurut penentuan ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-Qur’an dan al-hadis. Dapat dijumpai istilah yang mengacu kepada Baik misalnya al-hasanah dan al khair.
            Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh Al-Raghib al-Asfahani adalah sesuatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Lawan dari Al-hasanah adalah al-sayyiah yang berarti kesempitan,kelaparan dan keterbelakangan. Pemakaian kata al-hasanah yang demikian itu kita jumpai pada (Qs. Al-Qashash,28:84).        
“Barang siapa yang mendatangkan kebaikan, maka baginya kebaikan”.

Adapun kata al-khair khusus digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia, seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang bermanfaat.. Hal ini terdapat pada (Qs. Al-Baqarah,2:158).
“Barang siapa yang melakukan sesuatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”.[8]

Perbuatan yang dianggap baik dalam Islam juga adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah itu. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada kedua orang tua,saling menolong dan mendoakan dalam kebaikan dll. Sebaliknya bersikap membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, durhaka kepada kedua orang tua, saling bertengkar dan dendam adalah perbuatan buruk yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. [9]

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa standar akhlak berpengaruh dalam penentuan baik dan buruk. Jika seseorang memiliki akhlak yang baik maka tumbuhlah kebaikan itu sendiri bukan dari paksaan. Namun dalam penilaian hal ini sangat relative, karena dalam penentuan baik dan buruk tergantung orang yang menilainya. Namun manusia memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai nilai yang baik sesuai tujuan.
B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran sebagai acuan agar makalah kami selanjutnya menjadi lebih baik. Kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadist “Al insaru minal khotto wannisa” Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Akhlak Tasawuf yang telah memberikan kami tugas demi kebaikan kita sendiri dan demi kebaikan bersama.

DAFTAR PUSTAKA


Hajjaj, Muhammad Fauqi.tasawuf islam dan akhlak, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2011).
Mustofa, A.akhlak tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).
Nata, Abuddin.akhlak tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012).



[1] Muhammad Fauqi Hajjaj tasawuf islam dan akhlak. hlm. 223.
[2] H. Mustofa.akhlak tasawuf. Hlm. 56.

[3] Prof. Dr.H.Abudin Nata,MA akhlak tasawuf, hlm 103.
[4] Louis Ma`luf.
[5] H. A. Mustofa, akhlak tasawuf, hlm 56.
[6] Prof.Dr. H.Abuddin Nata,MA hlm 105
[7] Prof.Dr. H.Abuddin Nata,MA hlm 119
[8] Prof.Dr. H.Abuddin Nata,MA hlm 120
[9] Prof.Dr. H.Abuddin Nata,MA hlm 126

Tidak ada komentar:

Posting Komentar